Isu PKI : kata tanpa nyata.

 Isu  PKI : kata tanpa nyata.

(Kritik tulisan Akmal Akhsan Tahir “Ada Apa dengan PKI”)

Oleh : Immawan Fery Setiadi

Bangkitnya isu-isu PKI dewasa ini ialah upaya provokasi dan adu domba. Kebangkitan isu-isu tersebut bertujuan untuk rakyat Indonesia  pecah dan yang paling mengherankan ialah isu ini muncul di setiap pesta politik bangsa Indonesia (pemilu), muncullah pertanyaan “adakah hubungan isu ini dengan politisi-politisi busuk di negeri ini?”. Syafii maarif berkata sebanarnya saya sangat bosan bicara tentang isu kebangkitan PKI, tetapi tetap saja menjadi ritual tahunan setiap bulan September/oktober. ’’(Republika : 2017) Tak  jarang adegan ketegangan antar tokoh sengaja dipertontonkan kepublik/khalayak yang melengkapi tensipolitik yang kian memanas, seakan-akan semakin menebalkan pengkubuan bahwa PKI merupakan fakta sejarah atau hanya sebatas mitologi politik belaka. Dari sinilah menurut saya mereka unjuk kebolehan retorika antar kubu di mulai tanpa di barengi data-data valid yang terukur.

Lantas, mengapa public begitu gaduh? Ketakutan dengan isu-isu semacam ini. Padahal pemerintah sudah melarang keras segala aktivitas yang berkaitan atau yang berbau komunisme di Indonesia, perihal ini terbukti misalkan pernyataan presiden Jokowi bahwa “kalau PKI muncul, gebuk!”, pernyataan ini sesungguhnya penegasan bahwa pemerintah tidak berada pada jalur PKI. Meski begitu, tetap saja ada oknum yang dengan sengaja mendramatisir cerita sebagai manuver kepada pemerintah, tentu ini ada hubungannya dengan pemilu 2019 mendatang.

Beberapa waktu yang lalu, Akmal Akhsan Tahir menulis tentang PKI, ia mengatakan bahwa “PKI itu hantu sekaligus kenyataan”. Bagi saya ini asumsi yang tidak berdasar karena realitanya PKI atau yang berbau komunis sudah di larang keras oleh Negara ini sebab PKI secara ideologis bertentangan dengan Pancasila sebagai dasar negara. Inilah yang saya katakana sebagai kata tanpa nyata, sebab itu sebaiknya kita lupakan sejarah-sejarah itu, lebih baik kita memikirkan bagaimana Indonesia ini lebih berkemajuan dan itu lebih baik serta beradab. Masih banyak hal yang harus kita bahas secara mendesak, seperti masalah perekonomian, korupsi, ketimpangan, pendidikan dan sebagainya. Beberapa waktu yang lalu kita terlalu terlena dengan isu-isu PKI sehingga lupa pada perkara korupsi e-ktp Setya Novanto yang jelas di depan mata merugikan masyarakat. Dugaan saya lepasnya Setyanovanto ialah sebab dari terlenanya kita dengan isu PKI. Bukan hanya itu, kita kian buram melihat kasus penyiraman terhadap Novel Baswedan beberapa bulan lalu. Hingga saat ini kasus penyiraman tersebut tidak ditanggapi dengan serius oleh penegak hukum. Dugaan saya ada ketimpangan hukum di negeri ini. Hal inilah yang harus kita tanggapi secara serius melebihi isu-isu tahunan yang politis dan membosankan. Selain itu, masih ada ideologi lain yang tak kalah bahaya, yaitu neokapitalisme dan neoliberalisme. Keduanya tersebut ada kaitannya dengan perekonomian Indonesia. Tujuan utamanya adalah menciptakan dan mengkoordinasikan rencana investasi yang telah dibuat oleh segelintir perusahaan swasta dan dengan mempengaruhi kebutuhan koordinasi tersebut paham neokapitalisme mengajukan tujuan-tujuan tertentu yang dianggap memiliki prioritas tingkat pemerintah. Tujuan seperti ini telah berjalan lambat laun dimana perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia telah diatur sedekimian rupa oleh pemerintah dengan mengatas namakan perekonomian masyarakat. Padahal, tujuannya sangat berbeda sekali dengan makna perencanaan sosial.

Kesimpulannya adalah lebih baik kita tinggalkan isu-isu PKI yang membosankan ini dan tidak perlu lagi ada kekhwatiran sebab ideologi PKI sangat bertentangan dengan Pancasila dan dilarang keras oleh negara. Lebih baik kita memikirkan bagaimana menata Indonesia menjadi lebih baik serta beradab.

 

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *