I’M SORRY

” I’m Sorry “

Main Characters       : Ai Yukota, Eklysia Jacob

 

“Kau hanya seorang pecundang!!!”

Ekly memandangku sekilas,air mata itu mengalir pelan dari sudut-sudut matanya. Aku menatapnya sedih, sekaligus heran melihat sikapnya yang akhir-akhir ini selalu begitu. Dia secara tiba-tiba menangis menatap awan,  mengepalkan  jari-jarinya dan meninju-ninju bebas di udara. Lebih lagi dengan ucapan-ucapannya barusan, membuatku sama sekali tak mengerti. Dan akupun merasa enggan untuk sekedar bertanya, karena aku yakin dia takkan pernah terus terang dan justru membuatku semakin penasaran.

“ Kau tahu apa yang kumaksudkan, Ai?”

Aku terjaga dari lamunanku, dia kembali menatapku tajam meski air mata itu masih urung untuk surut. Aku sama sekali tak mengerti, bagaimana bisa dia tiba-tiba bertanya seperti itu padaku sementara dia sendiri tak pernah sedikitpun membuatku mengerti? aku menggeleng pelan, dan kembali fokus pada buku  Kasastrofi Mendunia yang beberapa kali ini berhasil menyita waktu luangku. Kudengar  ia mendengus kesal, tak puas dengan reaksiku atau lebih tepatnya dia kecewa dengan perlakuanku yang tampak tak memperhatikan ataupun memahaminya.

Brakkkkk….

Hentakan keras pada meja kami membuatku terlonjak seketika. Jantungku serasa siap meloncat, bukuku terjatuh di bawah kakiku, sementara beberapa peralatan sekolahku berhamburan dari tempatnya. Ekly benar-benar membuatku naik pitam. Apa yang dia mau?

“ Kau…!!!”

Belum sempat aku melanjutkan kalimatku, dia sudah lebih dulu menyerangku dengan kalimat-kalimatnya

“ Ai… bagaimana bisa kau tak mengerti ? Ada apa denganmu?”

Kini tatapannya benar-benar membuatku terhenyak. Dia benar-benar marah.  Dan kini seisi kelas tengah menatap heran ke arah kami, aku menatapnya cemas dan akupun mencoba membujuknya agar tenang.

“ Apakah kau sebodoh itu, Ai?”

Kali ini dia berkata setengah berteriak. Aku hanya membisu. Bingung. Tak mengerti dengan arah pembicaraannya kali ini. Mengapa dia sampai hati mengatakan aku bodoh? Dalam hati aku benar-benar tak terima dengan perkataannya. Alih-alih sibuk dengan urusan masing-masing, kawan-kawan di sekitarku justru berbisik-bisik tak jelas, mereka membicarakan kami.

“ Apakah kau lupa bahwa aku sahabatmu?? Bukankah kau tahu bagaimana seharusnya memperlakukan sahabatmu??”

Ia berdiri tepat di hadapanku dan menuding-nudingkan jari telunjuknya di depan wajahku.  Jantungku serasa berhenti memompa,  hingga aliran darahku serasa terhenti pula. Hawa panas mulai mengaliri saraf-saraf tubuhku, perlahan namun pasti merambat ke otakku.  Detik ini pula  kepalaku terasa  benar-benar ingin meledak dan menghamburkan segala  isi yang dikandungnya. Ia bicara tak tahu aturan, seluruh isi kelas menatapku sinis sembari berbisik-bisik heboh mengomentari perkataan Ekly tadi.  Mereka pasti akan salah mengira, Ekly benar-benar telah menjatuhkan harga diriku di hadapan mereka.

“ Kau pikir kau…..” belum sempat aku menyanggah apa yang ia katakan barusan, tiba tiba suaraku terhenti, seperti ada sesuatu yang menyekat tenggorokanku. Dan lagi lagi dia kembali menyerangku secara bertubi-tubi. Dia sama sekali tak memberiku kesempatan untuk bicara.

“ Kukira kau genius, Ai!!!… Kukira kau akan memahamiku. Tapi faktanya tidak, kau jauh dari itu semua.. Kau tak pernah menganggapku ada…. Kau memang pecundang Ai!!!!”

Sekali lagi, kata-katanya berhasil membuatku terhenyak untuk beberapa lama. Aku benar-benar merasa mati kutu. Hawa panas yang sedari tadi menjalar mulai pudar dan tergantikan dengan hawa dingin kecemasan. Aku merasa telah kalah telak. Aku masih diam membisu, apa yang barusan ia katakan memaksaku untuk memutar ulang memori beberapa tahun lalu ketika kami duduk di bangku Sekolah Dasar. Benarkah gadis di hadapanku ini adalah Eklysia Jacob?  dan bagaimana bisa aku mengiranya tidak bila  jelas-jelas gadis yang tengah menyeka air matanya ini adalah sahabatku sendiri? sahabat yang mulai terlupakan? .

Seketika aku merasa terbangun dari koma panjang, seluruh kenangan bersama Ekly serasa terbentang jelas di hadapanku, satu persatu kenangan itu berkelebat jelas memenuhi otakku dan memaksaku untuk mengingat ulang semua. Ekly menatapku sayu, sementara tatapan kawan-kawan di sekitarku mulai terabaikan.  Entah mengapa,aku benar-benr merasa bersalah. Bagaimanapun juga aku sadar bahwa aku telah lama mencampakkan Ekly dan terlalu sibuk dengan segudang usahaku untuk meraih gelar siswa nomor satu di sekolah ini, mimpiku selama bertahun-tahun lalu. Mimpiku bersama Eklysia. Dan aku terlalu egois karena melupakannya.

Mendadak dunia terasa cepat berputar, di ruang kelas ini hanya tersisa aku dan Ekly. Aku  masih duduk mematung sementara  Ekly masih berdiri di hadapanku,ia menyeka  air matanya yang terus meleleh perlahan-lahan. Aku hanya termangu, menatap sedih kepada buku-buku yang berserakan di mejaku, buku-buku itu serasa menertawaiku. Tertawa jahat! Bagaimana bisa aku jadi begini?

Aku mendongakkan wajahku, berusaha menatap jelas raut wajah Ekly. Eklysia Jacob, aku telah berlaku kejam terhadapnya. Ini salahku karena  telah terlampau jauh memasuki ambisi duniaku, mengabaikan hal-hal lain yang aku tak sadar bahwa hal itu teramat penting bagi hidupku. I’m sorry friend, i’ll never make you sad anymore..I promise!                     

Lambat laun aku menyadari bahwa kini  Ekly tengah mengenakan gaun putih musim panas yang kerap ia gunakan. Senyumnya mengembang,sangat manis. Namun entah kenapa aku bisa melihat raut kesedihan di wajahnya.

“ Ai, mungkin ini adalah akhir yang telah direncanakan oleh tuhan. Aku akan berusaha untuk tak menyalahkanmu. Tetap kejar  impianmu, Ai!!!!”  Ucapnya kemudian, menyadarkan diriku yang sedari tadi sibuk dengan alam pikiranku sendiri. Kini ia berbalik arah, berjalan pelan hendak meninggalkanku.

“ Ekly.. Bisakah kau tetap tinggal?” Suaraku terdengar hambar, kaku. Bahkan terkesan membentak. Dalam hati aku benar-benar menyesal tak dapat menyeimbangkan intonasi suaraku dengan kejadian mengharukan ini.

“Sebentar saja…..” tambahku pelan, meskipun agak ragu. Ekly hanya bergeming di depan pintu, enggan untuk berbalik. Kuedarkan pandanganku di sekitar ruangan. Entah bagaimana bisa, kini kelasku telah terisi penuh. Semua siswa duduk di bangku masing-masing dengan kepala yang tertunduk, diam membisu tanpa bersuara dan berulah sedikitpun. Sejak kapan mereka masuk? Aneh!!!..

“ Ekly……” suaraku terdengar begitu berat, nyaris tak terdengar.

Aku terlonjak kaget, seisi kelas berdiri perlahan dan mulai berjalan mendekatiku. Wajah mereka membuat jantungku melorot, mirip dengan wajah para zombie yang aku lihat di film Resident Evil  beberapa hari  lalu . Benar-benar mirip sekali, membuatku setengah mati ketakutan. Mereka menatapku garang dan masih terus berjalan ke arahku.

“ Ekly………”   aku mencoba memanggilnya, memintanya untuk menolong. Kulihat Ekly  tengah berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat pasi bagai tak memiliki darah yang mengalir sedikitpun. Namun ia tersenyum ke arahku,  tampak begitu tulus. Alih-alih mendekat Ekly justru semakin menjauh, dunia terasa begitu aneh, pandanganku mulai kabur, buram dan beberapa saat kemudian dunia burubah menjadi putih. Hanya ada warna putih. Sesaat kemudian aku tersadar bahwa kini aku hanya sendirian di dunia putih ini, entah ke mana para zombie itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Ke mana pulakah Eklysia?

“ Ai………” terdengar suara Ekly memanggilku, namun ia tak kunjung memperlihatkan dirinya. “ Aiiiii…….” Tiba-tiba kepalaku terasa pening, suara-suara itu memenuhi memori otakku dan sesaat kemudian aku hanya dapat mendengar suaraku sendiri berteriak memanggil namanya.

” EKLY…….!!!!!!!!”

Saturday, June 12. 03.25 a.m

Kubuka mataku yang masih terasa begitu berat, kutatap lekat langit-langit kamarku yang bersinar terang terhias bintang-bintang kuning keemasan yang aku tempel minggu lalu. Eklysia Jacob. Sekilas nama itu terbesit di otakku. Jam baru menunjukkan pukul 03.30 ketika kudengar nada panggil dari handphoneku. Unknown name. Aku mencoba bangkit dan menyandarkan tubuhku di Teddy bear cokelat kesayanganku.

“ Ai Yukota..??” samar-samar kudengar seseorang menyebut namaku sembari terisak pelan.

“ Ya…. dengan siapa ini?” tanyaku, meski agak ragu.

Beberapa lama kemudian tak ada jawaban dari seberang sana, membuatku berharap-harap cemas. Tak ada jawaban pasti, yang kudengar hanyalah isakan-isakan pelan yang lama-lama berubah menjadi tangis yang memilukan.  Apakah ini masih di alam mimpi? Aku bergidik ngeri mengingat mimpiku barusan.

“ Operasinya gagal…..” Ucap suara di seberang sana. Aku hanya mengernyitkan kening, tak mengerti.

“ Ini ibunda Ekly, Luna Jacob. Sesaat sebelum operasinya dimulai, dia meminta tante untuk segera menghubungi nomormu. Dokter tak berhasil, Ai…. Ekly pergi….”

Aku hanya bergeming, tak menanggapi. Ini begitu sulit dipercaya. Aku belum sempat mengucap maaf dan terimakasih padanya, namun secepat ini dia pergi. Dulu aku pernah pergi meninggalkannya, tapi kini aku ingin kembali menggapainya, berada di sampingnya sebagai sahabat yang menyayanginya. Ini pembalasan yang lebih menyakitkan, dia pergi dan takkan pernah kembali lagi. Kurasakan bulir-bulir air mata mulai membasahi pipiku, dadaku benar-benar sesak, sakit sekali Ekly…

 

Saturday, June 12. 07.30 a.m

Eklysia Jacob is burried without my attendance.

Setiba di pemakaman, kudapati daun-daun kamboja bergerak-gerak pelan menyapaku hangat. Dari kejauhan, kulihat orang-orang memandangi kedatanganku yang terlambat, memunculkan ekspresi yang beranekaragam. Guru-guru menatapku simpati, berbalik dengan kawan-kawanku. Mereka menatapku sinis, meski tak sedikitpun mirip dengan zombie, bagiku tetap saja menyeramkan. Kulangkahkan kakiku dengan penuh rasa ragu, kupandangi tanah segar yang menggunduk di tengah kerumunan, tempat peristirahatan akhir Eklysia.  Aku memandang haru, tante Luna  tersimpuh di atas pemakaman itu dengan air mata yang terus mengalir, ia tak sedikitpun bermaksud menyekanya.

“ Kau datang, Ai?” seseorang mencolek bahuku pelan, aku berbalik dan hanya mengangguk pelan.

“ Bagaimana dengan UMPTNmu?” seseorang lain ikut menimbrung dengan suara yang agak keras.

Seketika orang-orang mengedarkan pandangan mereka ke arahku, sebagian dari mereka tersenyum sinis dan menggeleng-geleng menyalahkan.  Kini aku teringat beberapa minggu lalu  saat mereka mengajakku untuk menjenguk Ekly di rumah sakit, aku menolak mentah-mentah dengan alasan sibuk dengan UMPTN dan beasiswaku. Dan itu adalah kejahatan lain yang kulakukan terhadap Ekly sepanjang dia dirawat di rumah sakit, tak sedikitpun menyempatkan diri untuk menjengukknya namun  hanya sibuk dengan berbagai buku tebal dan juga Toefl untuk kuliahku yang akan datang.

“ Di sisa akhir hidupnya, dia hanya ingin menghabiskan waktunya dengan orang-orang yang dia sayang. Kau sahabat yang dia sayang, Ai.. Tapi kenapa?” Aku tercekat mendengarnya. Tom Jeremy, dia memang tahu banyak tentang Ekly. Dia telah lama menaruh hati padanya.

“ Seharusnya kau mencoba untuk memahaminya. Karena diapun begitu. Dia memahamimu, dia paham akan kesibukan yang membuatmu melupakannya…” Suara lain mulai terdengar di telingaku. Mereka semua menyalahkanku, yah,,, mereka benar!ini semua salahku!

“ Kau pecundang !! Kau egois,, Ai!!!!!” Aku menggigit bibir, tak kuasa menahan goncangan dari dalam jiwaku. Perlahan air mataku mulai leleh, aku tak sanggup lagi untuk membendungnya. Kulangkahkan kakiku untuk mendekat ke pusara Ekly, orang-orang menatapku heran sekaligus simpati melihat mataku yang berkaca-kaca. Tante Luna tersenyum hangat ke arahku, pelan-pelan merengkuh tubuhku dan memelukku begitu erat. Seketika tangisku benar-benar pecah, kurasakan jemari tante Luna mengusap kepalaku  perlahan, mencoba menenangkan.

“ Maafkan saya tante…..” Ucapku, bergetar.Tante Luna merelaksasikan dekapannya, mencoba menatapku.

“ Iya Ai,,, tante tahu… tante tahu kamu sangat menyesal….”

“Tante, apakah Ekly sudi memaafkan saya?” tanyaku lagi, membuat tante Luna menatap lekat mataku.

Ia tak kunjung menjawab,  justru menyeka air mataku. Namun beberapa detik kemudian ia mengangguk mantap, menggenggam jari-jariku.

“ Pasti… Pasti Ekly memaafkanmu… Kau sahabatnya, Ai!!!!”.

Hanya mendengarnya dari tante Luna, hatiku takkan pernah merasa lega. Aku sudah terlampau kejam untuk dimaafkan, pasti takkan semudah itu.

“ Ai…..” Tante Luna kembali menatapku lekat, mata itu meredup meski senyum yang menghiasi bibirnya terus terkembang.

“ Ekly berpesan kepadamu….” Aku tertunduk lesu, pastilah pesan itu berisi kemarahan Ekly terhadapku. Tante hanya berpura-pura mengatakan penerimaan maaf itu.

“ Mungkin ini adalah akhir yang telah direncanakan Tuhan. Ai, aku akan berusaha untuk tak menyalahkanmu…Aku selalu memaafkanmu, Ai…Kau adalah sahabat terbaikku. Apapun yang terjadi tetaplah kejar  impianmu! wujudkan mimpi kita, meski tanpa aku. Sejauh ini kau bisa, kau selalu bisa, Ai!!!”

Nafasku serasa terhenti, dadaku benar-benar sesak. Ekly telah menyampaikan pesan itu kepadaku. Lewat mimpi!

 

Monday,  January16.  06.30 a.m

Graduation Day!

Aku berteriak girang! Dari 3500  murid di sekolah ini, aku adalah satu-satunya murid yang mendapatkan nilai sempurna! What a beautifull scenery when all people say ‘Congratulation’ to me! All of them are so proud of my acheivement!   Tak lepas dari  itu semua, aku benar-benar bersyukur pada Tuhan Semesta Alam yang telah memberikan anugerah ini kepadaku.

Setelah berlama-lama membahas ini dan itu dengan teman-teman dan beberapa media sekolah, aku segera melangkahkan kakiku untuk  menemui kepala sekolah. It’s about my scholarship in Europe!.. My big dream with Eklysia.

Yah, semuanya berjalan lancar, seperti harapanku bersama Ekly. Ini adalah mimpi besar kami ketika kami duduk di kelas 3 SD,saat pertama kalinya kami mengenal benua Eropa. Bulan depan adalah  jadwal keberangkatanku ke Eropa, tanpa Ekly. Sulit memang, aku benar-benar merindukannya. Dan sekali lagi, aku akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanku, aku akan belajar menjadi orang yang tidak egois juga orang yang bersikap lebih dewasa lagi.Akuberjanji takkan membuat Ekly kecewa!!!..

Air mataku kembali meleleh, rasa sedih dan penyesalan itu kembali lagi kurasakan,namun entah kenapa sesuatu dalam diriku menyuruhku untuk bertekad kuat bahwa aku harus segera menghapus air mataku dan tetap tersenyum. Perjalanan masih panjang, tak ada waktu untuk sekedar menangis dan meyesal. Aku akan berjuang untuk mewujudkan mimpi-mimpi kami yang lain…Sesulit apapun itu, aku akan berusaha semaksimal mungkin. Karena kehidupan adalah misteri yang takkan berakhir, kitapun takkan pernah tahu dengan apa yang akan terjadi di hari esok. Ekly,pegang janjiku, kan kutaklukan Eropa untukmu!

Created by                 : Lailatul Hidayanti S

 #IMMFKIKUMY

#siapliterasi

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *