Gangguan Jiwa? Jangan Takut !

 

 

Gangguan mental atau penyakit kejiwaan adalah pola psikologis atau perilaku yang pada umumnya terkait dengan stres atau kelainan mental yang tidak dianggap sebagai bagian dari perkembangan normal manusia. Gangguan tersebut didefinisikan sebagai kombinasi afektifperilaku, komponen kognitif atau persepsi yang berhubungan dengan fungsi tertentu pada daerah otak atau sistem saraf yang menjalankan fungsi sosial manusia.

Ada banyak kondisi kesehatan yang dapat dikategorikan sebagai sakit jiwa. Tiap kelompok dapat terbagi lagi menjadi jenis-jenis sakit jiwa tertentu. Macam macam kondisi yang dapat terjadi yaitu :

Gangguan kecemasan

Seseorang yang mengalami gangguan kecemasan merespon obyek atau situasi tertentu dengan perasaan ketakutan, panik, berkeringat, dan detak jantung menjadi lebih cepat. Respon ini tidak dapat mereka kontrol dan mengganggu keseharian. Gangguan kecemasan juga dapat berupa fobia terhadap situasi tertentu, gangguan kecemasan sosial, ataupun gangguan panik.

 

Gangguan kepribadian

Mereka yang mengalami gangguan kepribadian umumnya memiliki karakter yang ekstrem dan kaku yang cenderung tidak sesuai dengan kebiasaan bermasyarakat, seperti antisosial atau paranoid.

 

Gangguan afektif/mood

Orang yang mengalami gangguan mood dapat terus-menerus merasa sedih, merasa terlalu gembira pada periode tertentu, atau memiliki perasaan senang dan sangat sedih secara fluktuatif. Bentuk paling umum dari kondisi ini antara lain gangguan bipolardepresi, dan gangguan kiklomitik di mana perubahan mood dari senang ke sedih atau sebaliknya secara signifikan.

 

Gangguan ketidakmampuan mengontrol keinginan

Orang dengan gangguan ini tidak dapat menolak dorongan dari dalam dirinya untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya membahayakan diri sendiri atau orang lain. Gangguan jiwa yang termasuk kelompok ini antara lain kleptomania (mencuri barang-barang kecil), piromania (suka menyulut api).

Gangguan jiwa akibat penggunaan zat psikoaktif

Termasuk pada kelompok ini adalah kecanduan minuman keras dan obat-obatan terlarang.

Gangguan psikosis

Gangguan ini mengacaukan pikiran dan kesadaran manusia. Halusinasi dan delusi adalah dua bentuk gejala paling umum dari kondisi ini. Orang yang mengalami halusinasi merasa melihat atau mendengar suara yang sebenarnya tidak nyata. Sedangkan delusi adalah hal tidak benar yang dipercaya pengidapnya sebagai benar, misalnya delusi kejar, dimana penderita merasa diikuti seseorang. Contoh gangguan psikosis yang paling dikenal adalah skizofrenia. Pengidap skizofrenia mengalami gangguan otak yang membuatnya dapat mengalai halusinasi dan delusi.

Gangguan pola makan

Pengidapnya mengalami perubahan perilaku, kebiasaan, dan emosi yang berkaitan dengan berat badan dan makanan. Contoh paling umum dari gangguan ini adalah anoreksia nervosa dimana penderita tidak mau makan dan memiliki ketakutan abnormal terhadap berat badan. Contoh lain adalah bulimia nervosa dimana penderita makan berlebihan kemudian memuntahkannya secara sengaja. Ada juga kondisi binge-eating atau kondisi saat seseorang makan terus-menerus dalam jumlah banyak, namun tidak disertai memuntahkan kembali.

 

Gangguan obsesif-kompulsif/obsessive-compulsive disorder (OCD)

Pikiran pengidap OCD terus-menerus dipenuhi oleh ketakutan atau pikiran yang mengganggu yang disebut dengan obsesif. Kondisi ini membuat mereka melakukan ritual yang berulang-ulang yang disebut kompulsif. Contohnya adalah orang yang terus-menerus mencuci tangan karena takut secara berlebihan kepada kuman.

Gangguan pasca-trauma/post-traumatic stress disorder (PTSD)

PTSD adalah gangguan mental yang terjadi setelah seseorang mengalami kejadian yang menakutkan seperti kematian anggota keluarga yang dicintai secara tiba-tiba, pelecehan seksual, atau bencana alam.

 

Sindrom respons stress/gangguan penyesuaian

Yaitu ketika seseorang menjadi emosional dan mengalami perubahan perilaku setelah berada pada kondisi di bawah tekanan, seperti kondisi krisis, perceraian, bencana alam, kehilangan pekerjaan.

 

Gangguan disosiatif

Akibat situasi tertentu, seperti trauma, pengidapnya mengalami gangguan parah pada identitas, ingatan, dan kesadaran akan diri sendiri dan lingkungannya.

Gangguan seksual dan gender

Gangguan yang berdampak kepada gairah dan perilaku seksual, seperti disfungsi seksual dan gangguan identitas gender.

 

 

Gangguan somatoform

Mengalami nyeri atau sakit pada anggota tubuhnya, meski dokter tidak menemukan gangguan medis apa pun.

Penyakit ini umumnya tidak dapat membaik dengan sendirinya atau bahkan dapat memburuk jika tidak segera ditangani. Pada umumnya, penanganan akan disesuaikan dengan tingkat keparahan, jenis, dan penyebab gangguan.

Obat-obatan yang dapat dipakai meliputi obat-obatan antipsikosis, antidepresi, penstabil mood, dan anticemas. Biasanya pengidap akan menjalani sesi-sesi psikoterapi atau terapi bicara, stimulasi otak untuk menangani gangguan mental dan depresi, atau perawatan di rumah sakit jiwa untuk selanjutnya ditangani oleh psikiater. Di samping perawatan profesional, dukungan keluarga dan kondisi lingkungan yang nyaman menjadi faktor penentu kesembuhan pengidap sakit jiwa agar dapat kembali beraktivitas normal.

 

Setelah melihat dari sisi medis, sekarang bagaimana Islam memandang kesehatan jiwa terutama dari segi gangguan jiwa? Tentunya Islam memandang hal ini dengan penuh kearifan dan kebijaksanaan. Islam tidak memandang gangguan kejiwaan sebagai sebuah aib atau bencana, melainkan sebagai sebuah ujian dan hikmah. Banyak dalil dalil di dalam Al Quran dan hadist yang membahas tentang kesehatan. Salah satunya firman Allah SWT sebagai berikut: “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku” (QS Asy Syu’araa:80). Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa sakit itu adalah ujian dari Allah, dan yang memberikan kesembuhan apabila kita sakit adalah Allah. Karena Allah Yang Maha Menyembuhkan Segala Penyakit.

Diantara penyakit kejiwaan yang sering ditemukan di lapangan adalah stress, yang mana stressor atau pemicunya bisa berbeda tiap individu. Stressor yang sama belum tentu memiliki pengaruh stress yang sama bagi orang yang berbeda, sehingga kemampuan mengatasi satu kondisi yang sama juga berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Gangguan lain yang hampir sama dengan strees namun berbeda adalah depresi. Depresi atau depressive disorder dapat dicirikan dengan kesedihan yang cukup berat yang dapat menghalangi fungsi keseharian dari penderitanya, dan biasanya penderita merasa tidak mood atau kurangnya ketertarikan dan kesenangan dalam beraktivitas. Adapun obat atau terapi rohani yang bisa dilakukan adalah memperdalam ilmu agama dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, khusunya untuk depresi yang sebabnya dalah permasalahan hidup. Jika kita menyimak hadist-hadist Rasulullah Shallallahu alayhi wa Sallam tentang hikmah ujian untuk seorang mukmin dan sejarah hidup beliau serta para sahabat dan orang sholeh setelahnya tidak pernah lepas dari berbagai persoalan dan ujian hidup dan akan bisa menyadarkan seseorang bahwa cobaan atau ujian yang menimpanya belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan mereka, meski demikian mereka tetap sabar dan tegar dalam menghadapi cobaan tersebut dengan penuh ridho dan kesyukuran. Dalam syariat Islam, yaitu agama kita yang mulia juga telah menuntunkan bagi mereka yang tertimpa masalah kesedihan dan kesusahan hidup melalui doa yang bisa kita baca, diantaranya :

للَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

“Allahumma inni a’udzubika minal hammi wal hazan, wa a’udzubika minal ‘ajzi wal kasal, wa a’udzubika minal jubni wal buhkl, wa a’udzubika min ghalabatid-daini wa qahrir-rijaal” (HR. Al Bukhari)

Artinya : “Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari rasa sesak dada dan gelisah, dan aku berlindung pada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung pada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung pada-Mu dari belenggu hutang dan tekanan manusia” atau bisa juga :

اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي وَنُورَ صَدْرِي وَجِلَاءَ حُزْنِي وَذَهَابَ هَمِّي

Allahumma innii ‘abduka ibnu ‘abdika ibnu ‘amatika, naashiyatii biyadika, maadhin fiyya hukmuka, ‘adlun fiyya qadhaa’uka. As’aluka bikullismin huwa laka sammaita bihii nafsaka,au anzaltahuu fii kitaabika, au ‘allamtahuu ahadan min kholqika, awista’tsarta bihii fii ‘ilmil ghoibi ‘indaka, an taj’alal Qur’aana robii’a qalbii, wa nuuro shadrii, wa jalaa’a huznii, wa dzahaaba hammii.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).

Artinya : Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu, dan anak hamba perempuan-Mu. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu. Hukum-Mu berlaku pada diriku. Ketetapan-Mu adil atas diriku. Aku memohon kepada-Mu dengan segala nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu, agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku dan pelipur kesedihanku serta pelenyap bagi kegelisahanku.”

Sama halnya dengan rasa cemas dan panik berlebih juga sering dialami, gangguan panik atau yang kita kenal juga dengan panic disorder adalah suatu gelombang kecemasan dan ketakutan yang luar biasa. Yang dirasakan biasanya oleh penderita adalah jantung yang berdebar – debar, sesak nafas sehingga penderita agak sulit untuk bernafas dan juga keringat yang banyak. Gangguan ini juga bisa disertai dengan depresi yang berat yang bisa menyebabkan gangguan fungsional yang berat. Untuk mengatasi permasalahan ini, maka bisa melakukan terapi ruqyah. Agar ruqyah tersebut mendapat hasil yang maksimal maka ruqyah tersbut harus disertai penyandaran diri kepada Allah. Selain itu, bisa juga jika ingin mengoptimalkan usaha untuk mencari kesembuhan bisa menggunakan obat-obat medis karena dalam literatur medis gangguan semacam ini dapat disembuhkan dengan obat tertentu dan perilaku tertentu.

Tadi sudah disinggung masalah ruqyah, lalu apa yang dimaksud dengan ruqyah itu? Ruqyah adalah membacakan sesuatu kepada orang yang sakit, bisa karena terkena ‘ain, sengatan, racun, rasa sakit, sedih, gila, kerasukan, sihir dan lainnya. Ruqyah yang syar’i memiliki ketentuan-ketentuan. Disebutkan oleh Imam As Suyuthi dalam Fathul Majid, “ruqyah itu dibolehkan dengan mengikuti tiga syarat :

  • Dengan menggunakan ayat Al-Quran atau nama dan sifat Allah
  • Menggunakan bahasa arab atau kalimat – kalimat yang mempunyai makna
  • Harus yakin bahwa ruqyah itu akan memberikan efek atas seizin Allah, bukan karena zat ruqyah itu sendiri”

Pengobatan lain yang dapat digunakan untuk gangguan jiwa adalah Habbatussauda. Berdasarkan penelitian, habbattussauda memiliki efek anti cemas dan anti depresan. Namun belum bisa menyebutkan berapa dosis yang dianjurkan. Habbattussauda jika dikonsumsi dalam batas minimal kemungkinan tidak menimbulkan efek samping, namun habbattussauda memiliki efek laksatif yakni melancarkan buang air besar kemungkinan jika dikonsumsi dengan cara yang kurang tepat atau berlebihan.

Demikianlah uraian singkat tentang gangguan jiwa, semoga bisa bermanfaat bagi pembacanya.

By : Immawan Rifqi Agivan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *