International Hijab Solidarity Day, Saatnya Immawati Sadar Akan Solidaritas

(Karya: Immawati Try Puji Utami dan Immawati Laili Maulidiyah)

International Hijab Solidarity Day (IHSD) merupakan peringatan Hari Solidaritas Hijab Sedunia yang diperingati setiap tanggal 4 September setiap tahunnya. Hari Solidaritas Hijab Sedunia ini berawal dari sebuah konferensi di kota London, Inggris pada (4/09/2004). Konferensi ini diselenggarakan dalam rangka meningkatkan integritas wanita dan kesolidaritasan sesama manusia. Alasan diadakannya konferensi ini yaitu akibat  banyaknya diskriminasi dan intimidasi pada wanita muslimah yang mengenakan hijab. Konferensi ini sendiri dihadiri oleh 300 orang delegasi yang berasal dari 102 organisasi di Inggris serta 35 negara lainnya.

Pada saat itu di London diberlakukan sebuah larangan bagi mahasiswi yang mengenakan simbol keagamaan apa pun bentuknya, termasuk juga pemakaian hijab. Selain itu, di negara Prancis juga melarang anak perempuan menggunakan hijab di sekolah maupun kuliah. Belum lagi di negara Turki, wanita yang mengenakan hijab tidak boleh mendapatkan perawatan medis. Dan yang lebih parahnya lagi adalah kasus yang terjadi di Tunisia, wanita yang berhijab di tempat umum akan di penjara dan disiksa.

Lalu bagaimana situasi di Indonesia?

Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi muslim terbesar. Namun nyatanya para muslimah di Indonesia belum sadar akan pentingnya berhijab dan menutup aurat mereka. Sungguh ironi jika kita melihat para muslimah yang diluar sana memperjuangkan hijabnya dengan mengorbankan pendidikan, kesehatan bahkan nyawa mereka sendiri.

Mungkin di zaman milenial ini muslimah yang memakai hijab sudah tidak di diskriminasikan se-ekstrem dulu. Namun ada kasus selanjutnya yang membuat kita tidak sadar akan solidaritas tidak hanya sebatas itu. Hal tersebut ialah mengenai cara berpakaian, walaupun sama-sama sudah berhijab, para muslimah masih saja kurang akan kesolidaritasannya. Terlebih beberapa waktu lalu muslimah yang mengenakan cadar sempat dilarang di suatu kampus dan dimasyarakatnya sendiripun dianggap aneh bahkan dicap sebagai teroris.

Banyak masyarat sekitar yang mempunyai anggapan bahwa semakin lebar hijab seseorang semakin salehah wanita itu. Hal tersebut menjadi sebuah statement yang tepat untuk beberapa alasan. Salah satunya ialah karena wanita tersebut mencoba menjaga dirinya serta dalam rangka mengindahkan perintah Allah dan Rosullullah sebaik mungkin.

Namun disisi lain, banyak wanita yang memakai hijab yang dinilai ‘nanggung’. Ada yang memakai rok tapi hijab tidak menutup dada dan lingkar pinggul. Ada pula yang memakai hijab tapi bercelana ketat, ada lagi yang berhijab tapi bajunya pendek, meski mengenakan celana atau rok yang longgar. Hijab nanggung lainya seperti tetap memakai wewangian yang sedikit berlebihan.

Bahkan yang terkadang membuat para wanita hijab nanggung itu sedih, banyak orang lain yang meremehkan mereka. Terkadang sering terdengar perkataan kasar dari mereka: “ Masa orang pondok penampilanya kaya gini!”. “Wangi banget sih, ga tau ajaran agama kah!”.

Padahal banyak wanita yang berpenampilan seperti itu dengan alasan yang menurut mereka lebih diprioritaskan. Bisa jadi mereka yang berhijab nanggung sedang belajar memakai hijab, sehingga beberapa ajaran agama belum mereka terapkan. Atau keluarga mereka yang masih sulit menerima langkahnya berhijab, sehingga iya sedikit tidak nyaman. Atau bisa jadi mereka adalah wanita pekerja ekstrim, sehingga hijab panjang yang dikenakan menghambat mobilitas bahkan dinilai membahayakan.

Kemudian, para wanita yang belum berhijab syar’i tersebut bukan berarti mereka tidak salehah. Banyak diantara mereka yang justru memiliki akhlak dan berbudi perkerti lebih baik dari mereka yang berhijab panjang. Banyak dari mereka berwatak santun, berkata yang lemah lembut dan jujur, selalu menghargai orang lain, memiliki rasa patuh dan hormat pada orang tua, rajin membaca dan mempelajari Al-Qur’an dan menjalankan solat dengan sebaik-baiknya.

Sementara, masih ada wanita yang berhijab syar’i tetapi dalam berkata menyakitkan, terkadang menggagap dirinya jauh lebih baik. Bahkan terkadang ada kurang menjaga kebersihan, seperti tidak menganti pakaian secara teratur, membiarkan tubuh yang berbau tidak sedap, tidak menjaga pola hidup sehat dan sebagainya.

Oleh karena itu, memberikan label terhadap wanita atas dasar penampilannya bukan sesuatu yang dibenarkan. Namun, berpakaian yang tidak memenuhi syariat lebih tidak bisa dibenarkan. Marilah kita menjaga kesolidaritasan antar sesama muslim, apapun yang mereka kenakan mari saling menghargai, dukung, serta ajak ke arah yang lebih baik lagi. Sadarlah bahwa ada muslimah lain di luar sana yang rela mati demi mempertahankan hijabnya. Lalu, bagaimana denganmu cantik?

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *