Kopi Hitam Netizen di Malam 1 Suro: Islam dan Budaya Lokal

Karya: Rizki Ramadhani, Agroteknologi 2016

Cangkir porselen itu disajikan pada masing-masing satu tamu, jumlahnya seingat saya ada 6 dalam satu baki. Untuk saya, kedua teman saya, pak kepala Dusun dan tetangganya. Sementara satu cangkir dibiarkan menjadi refill, wong sepanjang obrolan bu kepala Dusun namung mesem lan ngguyu. Hawa dingin menemani obrolan kami yang berlarut hingga hari sepertinya meminta berganti, ditambah aroma kopi yang menyeruak seakan jadi pemanis canda tawa.

Setahun lalu, kami sowan ke salah satu dusun paling ujung di Desa Pojok, Campurdarat, Tulungagung. Tujuannya hanya sekedar bermain dan belajar dengan anak SD, dan kala itu ndelalah pas dengan berlangsungnya tahun baru islam atau 1 Suro. Penduduk dusun memang masih memegang kental adat Jawa, sekental kopi yang saya seruput. Meskipun Topografi daerah Pojok yang dikelilingi pegunungan kapur dan jarak antar rumah warga yang berjauhan, tapi jangan ditanya antusiasnya kalau sudah menyambut 1 Suro. Warga yang tidak dinyana jumlahnya sebanyak mahasiswa baru yang memenuhi Sportorium akan berkumpul dan mendengarkan arahan pak Kyai dengan seksama.
Teman-teman pernah dengar tentang “Kebatinan Lakon”? Sebuah aliran islam kejawen yang ternyata dibesarkan disini. Mereka hidup beriringan dengan warga muslim lainnya, tanpa adanya perang batin yang seperti di drama-drama netizen sosmed. Jumlahnya memang kecil, karena mereka tidak menarik pengikut untuk go follow atau please subscribe maupun share link. Ketika kita menilik dan membandingkan keadaan diantara dua dunia maya dan nyata, terkadang saya sebagai pribadi pun bingung. Suasana anteng dan tenteram itu tercipta di desa Pojok, yang notabene masih berisi masyarakat dari berbagai aliran islam. Tapi sebaliknya, kondisi panas bahkan saling benci di media sosial menuntut kita untuk saling serang. Semua saling memprovokasi kebenaran, semua ingin yang tidak sejalan diluruskan, padahal diri sendiri belum tentu lurus. Media sosial membuat kita membuka mata, ke jangkauan dunia yang lebih luas. Dan tapi, apakah benar mata kita sudah terbuka? Kita merem dapet dengan realita. Apalagi mendekati momen tahun baru islam.

Malam 1 Suro sebagai tradisi Jawa yang telah turun-temurun dilaksanakan bukanlah suatu bentuk ketidakpatuhan warga terhadap hukum negara. Tidak ada aturan yang disalahi oleh mereka yang mengadakan malam 1 Suro. Tradisi ini adanya jauh dari sebelum islam datang, sehingga tidaklah patut jika harus dikomentari dalam label agama. Pada hakikatnya, semua orang di dunia berhak untuk membangun keabsahan beragama. Mau pakai gamis, baju koko, beskap, dll yang harusnya diwajibkan adalah kesantunan kita dalam menghargai satu sama lain. Termasuk menghargai tradisi. Namun terkadang, kita terjebak dalam paradigma menilai yang hanya terlihat tanpa harus pakai prosedur memahami substansi dan ruangnya terlebih dahulu. Terdapat suatu istilah yang dulu ramai khalayak bicarakan, tentang Pribumisasi Islam. Pribumisasi islam bukanlah ‘Jawanisasi’ atau sinkretisme sebab pribumisasi islam adalah bagian dari sejarah islam di negara manapun, termasuk di negara asalnya dan juga pastinya di
Indonesia. Agama dan budaya akan selalu bertumpang tindih sebagai proses yang memperkaya kehidupan. Langit sudah benar-benar gelap, hanya beberapa bintang yang bisa menemani. Ketua kegiatan menguap terhitung tiga kali, seakan mengkode untuk kembali pulang. Pulang ke fitrah rasionalnya? Malam itu, saya melihat teman saya yang terburu menghabiskan seteguk kopinya. Cangkir di tangan saya juga sudah tak lagi hangat, berbaur dengan dinginnya malam dan cerita-cerita pahit pengalaman pak Kadus yang usianya memang tergolong sepuh. Kami pun pamit, mengakhiri pertemuan dengan banyak titik tolak sebagai agen perubahan untuk mengusahakan rekonsiliasi di kemudian hari.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *