Life-Hacks Dunia Kampus (Sanggar Langit Bumi #1)

Senin malam, 10 September 2018. Saung Green House FP UMY di malam syahdu itu yang luasnya tak lebih dari kamar kos-kosan sudah dipenuhi mahasiswa yang mayoritas angkatan tahun pertama. Undangan diskusi tentang tips dan trik untuk mengakali kehidupan anak rantau di semester pertama kuliah nampaknya jadi magnet kuat mengumpulkan sebanyak total 34 maba dan 33 non-maba. Ba’da isya, mereka sudah mulai berkumpul.

“Pengen ketemu mas Yunan”, salah satu mahasiswa agroteknologi berujar.

Diskusi kali ini memang tergolong spesial, dengan tiga pemantik yang berasal dari jurusan dan angkatan yang berbeda. Salah satunya adalah wajah paling familiar di mata angkatan 2018, yaitu korlap Mataf bernama Yunanto. Jejaka yang paling junior diantara pemantik lainnya ini sangat berperan menghidupkan suasana diskusi karena pribadinya yang masih melekat dengan image korlap. Dua pemantik lainnya adalah Dego Juanda dari mahasiswa agroteknologi 2016 dan M. Adibuddin dari mahasiswa agribisnis 2016. Moderatornya menjadi yang tercantik, bernama Fitrah Hasanah.

Sebelum moderator membuka acara, agenda dimulai dengan perkenalan satu per satu. Mahasiswa banyak yang datang dari jauh seperti Sumatera dan Kalimantan, namun ada juga yang asli Jogja. Mereka semua sangat senang dan ikhlas menyempatkan waktunya untuk datang diskusi. Ketiga pemantik masuk ke saung dan duduk berjajar, moderator pun memulai dengan bacaan Al-Qur’an yang dilantunkan bersama-sama. Malam itu, Al-Alaq jadi pilihan dengan harapan dari diskusi ini akan membawa banyak berkah.

Masing-masing pemantik membuka informasi barang 5 sampai 10 menit. Adib, sapaan akrab Muhammad Adibuddin adalah yang pertama mengucap kata. Ia bercerita tentang kesibukannya sebagai anggota multi-organisasi. Adib memang dikenal jagonya masalah organisasi, pengalamannya dalam IMM sampai induk mahasiswa agribisnis, Popmasepi membuktikan kiprahnya sebagai mahasiswa yang anti kupu-kupu. Tapi dibalik cerita hebatnya, ia berkata jika dulunya ia memulai semuanya sama seperti mahasiswa lainnya. Ia tidak pernah merasa spesial. Saat pertama kali berada di UMY untuk mataf, ia sangat merasa kesulitan dengan semuanya. Apalagi ketika sudah dimulai jadwal perkuliahan dengan dosen yang notabene berasal dari tanah Jawa, mereka beberapa menjelaskan memakai bahasa Jawa. Adib berdarah asli Melayu, banyak jokes dosen yang ia tidak sama sekali paham. Fakta ia yang menjalani jurusan sosial semasa SMA membuat perantauan semakin berat, banyak istilah-istilah biologi yang tidak ia mengerti. Alhasil, untuk memperkaya relasi, Adib memutuskan masuk dalam organisasi. Berawal dari IMM dan kemudian banyak sekali relasi yang ia dapat. Adib juga sangat aktif di Himasepta, BEM KM UMY, dan POPMASEPI. Baginya, selalu ada waktu jeda diantara jadwal kuliah yang padat untuk menjalani organisasi jadi tidak ada alasan gagal dalam manajemen waktu.

Pemantik kedua, Dego Juanda membuka dengan pertanyaan dan iming-iming buku gratis. Namun karena kebanyakan mahasiswa baru masih malu untuk angkat tangan, adalah salah satu mahasiswa agroteknologi laki-laki yang mendapatkan bukunya. Dego memberikan banyak sekali tips dan trik kuliah di agroteknologi yang memang terkenal dengan lembur laporan, Termasuk saat Dego menjelaskan tata cara remidial dan peluang besar untuk mendapatkan IPK sempurna di semester awal. Dego juga mengatakan, jika semester awal adalah gerbang utama untuk meningkatkan mutu pertemanan. Disinilah mahasiswa dapat saling mengenal, salah satunya adalah lewat organisasi dan UKM yang bisa menyediakan wadah untuk minat dan bakat. Dego memilih IMM sebagai langkah awalnya mencari teman, dan sekarang ia juga sangat dikenal sebagai wakil gubernur BEM FP UMY. Ia sempat mengundang gelak tawa ketika mengaku IPK nya tidaklah sebanding dengan pencapaian soft-skill yang ia miliki, maka dari itu ia amat sangat menyarankan mahasiswa baru untuk lebih disiplin terutama dalam mengatur waktu istirahat agar tidak sering tertidur dalam kelas. Dego tidak lupa mewanti-wanti mahasiswa agroteknologi agar rajin membuka akses belajar online e-learning untuk mendapatkan materi terbaru dari dosen, dan yang tidak kalah penting adalah khas turun temurun agroteknologi dalam penulisan laporan yang harus ditulis tangan.

Pemantik paling muda dan paling terakhir bernama Yunanto. Sang korlap yang tahun ini punya banyak pengikut Instagram. Mahasiswa rantau ini mengawali sapaannya dengan yel-yel layaknya mataf di Sportorium yang disambut riuh rendah semangat peserta diskusi. Yunanto masih merasakan euforia sebagai mahasiswa baru layaknya tahun lalu. Ia juga masih mengingat jelas kenangan-kenangannya semasa SMA yang tidak peduli dengan jadwal, maka dari itu ia menceritakan pengalamannya yang tak bisa membagi waktu antara sekolah dan urusan kepuasan pribadi. Akhirnya kemauan untuk berubah itu timbul ketika ia harus kuliah, Jogja yang istimewa jadi pilihan utamanya untuk merantau, dan ia bertekad untuk menemukan banyak teman. Bahkan Yunanto mengakui jika alasannya masuk IMM dan BEM Fakultas adalah untuk mencari teman. Yunanto terkadang memberikan candaan di sela pembicaraan, namun tak bisa dipungkiri jika ia termasuk mahasiswa yang cerdas dan menguasai bahasa asing. Mahasiswa agribisnis angkatan 2017 ini punya 5 cara jitu memenangkan pertemanan berdasarkan pengalamannya. Adalah senyum, belajar mendengarkan, mencari kesamaan, respect, pujian dan kritikan tulus. Cara-cara ini yang ia andalkan selama menjadi anak rantau.

Sekitar pukul 9 malam, suasana semakin panas dengan dibukanya sesi diskusi yang sebenarnya. Perdebatan dan juga canda tawa bergantian sahut menyahut. Apalagi ketika bahasan tentang cara mengatasi insomnia, sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh Billy. Ada berbagai saran dan solusi baik dari pemantik maupun peserta diskusi lainnya. Akhirnya, diskusi berakhir pada pukul 21.30 ditutup dengan pembacaan catatan Najwa Shihab untuk Mahasiswa yang disampaikan dengan khidmat oleh Dego. Berikut bait terakhirnya,

“……Mahasiswa! Agen perubahan katanya. Akbarkan sumpah mahasiswa beserta makna. Jangan hanya mengejar IPK. Rakyat tak butuh angka. Mereka perlu aksi nyata”.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *